#masih suasana MPF
MPF (Masa Perkenalan Fakultas) merupakan masa-masa yang penuh tugas, mulai dari tugas individual,kelompok/ AK, Marga, dan bahkan angkatan. Untuk tugas angkatan bisa dikatakan tugas yang paling berat, karena ada banyak kepala yang harus diatur. Kali ini, panitia dari divisi Tim Kreatif menugaskan kami untuk membuat sebuah pensi angkatan. Dengan Rhefa sebagai koordinator sekaligus sutradara drama untuk pensi, bergabunglah 20 relawan dari Fateta 48 yang mengorbankan waktu liburannya untuk latihan (walaupun setiap latihan nggak selalu lengkap). Gue pribadi, yang nggak ikut saat pembuatan konsep awal, penempatan peran, dan dubbing, cukup khawatir saat pertama ikut latihan. Walaupun gue selalu mendapat update-an berita-berita dan file-file yang di perlukan dari Rhefa,tapi tetap aja,gue nggak tau muka lawan-lawan main gue (selain Rhefa dan Devi yang se-AK dan anak-anak ITP tentunya), dan gue nggak tau juga sikon disana. Selain itu,awalnya gue juga cukup khawatir saat membaca naskah. It's ok, gue sadar kalo gue gabut diawal dan konsekuensinya adalah gue harus menerima peran apapun yang dilemparkan ke gue. Hanya saja, kenapa harus jadi penjual *tutut???? _-_
*tutut:hewan aneh sejenis keong yang biasanya ditemukan di sawah. Dapat menimbulkan efek aneh dan trauma mendalam jika salah mengolah dan/atau mengonsumsi diatas porsi yang wajar (berdasarkan pengalaman pribadi saat mengikuti acara lapang di Halimun).
Awalnya (lagi), gue sempat ragu untuk meneruskan keikutsertaan gue karena sulitnya mencari waktu untuk latihan di Bogor terutama disaat libur bulan puasa seperti ini, ketika gue harus bantuin ibu gue memroduksi dan mendistribusikan pastry-pastry ta'jilan brand-nya. Untungnya, hal tersebut dapat diatasi. Tanggal 11 Agustus 2012, gue latihan perdana. Gue datang ke Bogor langsung dari Cikarang Baru hari itu juga. Sialnya, gue kesiangan dan kejebak macet di tol bersama puluhan (atau jangan-jangan ratusan???)kontainer dari berbagai jenis pabrik di Cikarang, resiko tinggal di kota industri. Akhirnya, jam 1 siang gue tiba di lokasi latihan, yang entah kenapa dipindahkan ke kontrakan Thaher (di jarkoman awal di kontrakan Rhefa), dan.. Oh, ini toh para pemainnya. Konsep-konsep awal yang sudah gue imajinasikan sebelumnya di rumah tentang tukang tutut pun gue peragakan. Hasilnya, lumayan.. cukuplah bagi seorang tukang tutut yang hanya ilusi belaka.
Keesokan harinya dan H-2 MPF kami latihan lagi, puncak latihan atau gladi resik dilakukan pada malam sebelum pentas. Kami sempat ketar-ketir juga dengan berbagai persiapan, terutama properti, yang belum lengkap.
Setelah berbagai perjuangan dengan peran masing-masing, tibalah hari yang dinanti-nanti. Tadi,setelah peserta Techno-F shalat ashar, kami, akhirnya menampilkan hasil latihan kami selama kurang lebih sebulan (sebenarnya dalam sebulan itu cuma beberapa hari, sisanya cuti). Awalnya, kami mengkhawatirkan berbagai kemungkinan buruk yang terjadi saat pentas, seperti dicuekin penonton, jokes-nya nggak 'masuk' ke penonton, trouble yang terjadi dari kita sendiri,atau lebih parah lagi (yang ini paling sering gue pikirin)kalo drama kami dianggap tidak bermoral oleh panitia. =_="
Hehehe...
Well, syukurnya hal-hal tersebut nggak ada yang terjadi. Sebaliknya, teman-teman para penonton terlihat antusias. wow, rasa puas dan lega pun membuncah.Akhirnya.. Akhirnya.. dan akhirnya....
Pada acara pensi angkatan ini, berita awal yang kami dapat yakni bahwa panitia pun menampilkan pensi angkatannya, tapi ternyata tidak. Tadinya kami sempat berpikir, kalau angkatan atas harus menampilkan pensi juga, berarti kemungkinan besar orang-orang yang menjadi wakil dari angkatan kami ya kami-kami lagi.
Tunggu...Tunggu...! Lagi?????
*mati _-_
Dewan Pensi Kehormatan: Rhefa, Naufal S, Naufal B (Behel), Delmar, Thaher, Dewi, Mimma, Dila, Dara, Uci, Indri, Zefika, Devi, Ary, Prakoso, Hilman, Jamhari, Harry,dan saya sendiri.
Tuesday, August 28, 2012
Friday, August 17, 2012
Dirgahayu ke-67 Republik Indonesia!
Happy Independence Day, RI!
May Allah SWT Bless our Country,and Give us His Salvation.. ^_^
Aamiin..
17 Agustus hari ini, mungkin termasuk 17 Agustus yang tersepi jika dibandingkan dengan 17-an tahun-tahun lalu, terutama di kota-kota besar (kisaran Jabodetabek). Pasalnya, 17 tahun ini bertepatan dengan H-2 lebaran atau saat arus mudik sedang padat-padatnya. Saya cukup kasihan melihat tukang-tukang penjual bendera, yang biasa beroperasi special hanya di bulan Agustus, sepi pembeli. Tapi, kalau memang para pelanggan mereka pulang kampong, seharusnya hal yang terjadi kepada para penjual bendera di daerah-daerah atau di kampung-kampung justru sebaliknya bukan? 17 Agustus tahun ini mengingatkan saya kepada hari kemerdekaan RI yang sesungguhnya, yakni pada tahun 1945, karena baik tahun ini maupun tahun 1945 17 Agustus jatuh pada bulan Ramadhan hari Jumat. Tapi, saya rasa para pejuang saat itu tidak sedang memikirkan soal mudik.
Tanggal 17 Agustus pagi, sekitar jam 09.30, hamper semua stasiun televisi menayangkan liputan khusus Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih, live from State Palace. Tak pernah saya menonton liputan ini dengan lengkap sebelumnya karena biasanya, di waktu yang sama pada tahun-tahun sebelumnya, saya selalu sedang melakukan upacara bendera juga. Rasanya, semenjak bersekolah, inilah kali pertama saya tidak melakukan upacara bendera.
Saya sangat tertarik dengan liputan kehidupan para purna paskibraka-nya yang rata-rata berasal dari keluarga ekonomi menengah kebawah. Saya juga cukup tertegun dengan usia mereka. Rata-rata mereka merupakan kelahiran tahun 1995, atau 2 tahun dibawah saya. Wow, secepat itukah? Maksud saya, rasanya baru kemarin saya mengagumi kakak-kakak paskibraka di layar televisi. Mereka mampu bergerak dengan patah-patah sempurna sekaligus anggun dan luwes. Lalu tiba-tiba saya sosok-sosok itu di televisi telah berubah menjadi adik-adik yang sangat dibanggakan. Ah, betapa waktu cepat berputar. Saya tiba-tiba saja berpikir, akankah bangsa Indonesia sanggup mengalahkan kecepatan itu? Semoga saja.
Dirgahayu ke-67 Republik Indonesia!
May Allah SWT Bless our Country,and Give us His Salvation.. ^_^
Aamiin..
17 Agustus hari ini, mungkin termasuk 17 Agustus yang tersepi jika dibandingkan dengan 17-an tahun-tahun lalu, terutama di kota-kota besar (kisaran Jabodetabek). Pasalnya, 17 tahun ini bertepatan dengan H-2 lebaran atau saat arus mudik sedang padat-padatnya. Saya cukup kasihan melihat tukang-tukang penjual bendera, yang biasa beroperasi special hanya di bulan Agustus, sepi pembeli. Tapi, kalau memang para pelanggan mereka pulang kampong, seharusnya hal yang terjadi kepada para penjual bendera di daerah-daerah atau di kampung-kampung justru sebaliknya bukan? 17 Agustus tahun ini mengingatkan saya kepada hari kemerdekaan RI yang sesungguhnya, yakni pada tahun 1945, karena baik tahun ini maupun tahun 1945 17 Agustus jatuh pada bulan Ramadhan hari Jumat. Tapi, saya rasa para pejuang saat itu tidak sedang memikirkan soal mudik.
Tanggal 17 Agustus pagi, sekitar jam 09.30, hamper semua stasiun televisi menayangkan liputan khusus Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih, live from State Palace. Tak pernah saya menonton liputan ini dengan lengkap sebelumnya karena biasanya, di waktu yang sama pada tahun-tahun sebelumnya, saya selalu sedang melakukan upacara bendera juga. Rasanya, semenjak bersekolah, inilah kali pertama saya tidak melakukan upacara bendera.
Saya sangat tertarik dengan liputan kehidupan para purna paskibraka-nya yang rata-rata berasal dari keluarga ekonomi menengah kebawah. Saya juga cukup tertegun dengan usia mereka. Rata-rata mereka merupakan kelahiran tahun 1995, atau 2 tahun dibawah saya. Wow, secepat itukah? Maksud saya, rasanya baru kemarin saya mengagumi kakak-kakak paskibraka di layar televisi. Mereka mampu bergerak dengan patah-patah sempurna sekaligus anggun dan luwes. Lalu tiba-tiba saya sosok-sosok itu di televisi telah berubah menjadi adik-adik yang sangat dibanggakan. Ah, betapa waktu cepat berputar. Saya tiba-tiba saja berpikir, akankah bangsa Indonesia sanggup mengalahkan kecepatan itu? Semoga saja.
Dirgahayu ke-67 Republik Indonesia!
Subscribe to:
Comments (Atom)