Saturday, December 10, 2011
Fieldtrip Cikarawang
Kamis, 8 Desember 2011 17:16
Sore, sekitar setengah lima kurang saya baru saja sampai di Asrama. Kami (kelas Q 14) baru saja mengadakan field trip ke Desa Cikarawang (daerah belakang IPB via Asrama Putra). Tujuan kami disana sebenarnya untuk mengadakan observasi mengenai Pola Adaptasi Ekologi, salah satu Bab di mata kuliah Sosiologi Umum. Kami berangkat menuju lokasi dengan angkot yang kami sewa. Sepanjang perjalanan, terdapat bengkel-bengkel ataupun laboratorium IPB yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Kami juga melewati Situ Gede dan perumahan atau komplek Cikarawang yang kebanyakan dihuni oleh pegawai IPB. Tak butuh waktu yang lama, kami pun sampai di Desa Cikarawang. Sudah ada Ka Syifa (asisten praktikum Sosiologi Umum kelas kami) dan teman-teman saya dari kloter sebelumnya disana. Sambil menunggu teman-teman dari kloter selanjutnya, kami berkumpul terlebih dahulu di suatu rumah yang memiliki plang bertuliskan “GAPOKTAN” (Gabungan Kelompok Tani). Rumah tesebut ternyata merupakan kediaman Pak Ahmad Bastari (Pak Amat) yang merupakan ketua Gapoktan Mandiri Jaya. Terdapat sebuah etalase dan sebuah rak besar di teras rumah tersebut. Etalase dan rak-rak tersebut berisi produk-produk Gapoktan—seperti tepung ubi jalar, keripik singkong, keripik ubi, dendeng belut, sampai obat kuat dari kepala belut—,dan ada pula produk-produk penunjang pertanian—seperti pupuk organik, pakan ternak, dan pupuk buatan. Di etalase tersebut juga dipajang berbagai foto dan penghargaan yang pernah diterima oleh Gapoktan, sayangnya, saya lupa mencatat penghargaan apa saja itu.Pak Amat mengatakan bahwa ini bukanlah kali pertama mereka kedatangan mahasiswa IPB, sudah sering mahasiswa IPB yang mengadakan observasi dan penelitian disini.Setelah semua anak berkumpul, kami langsung berjalan menuju daerah observasi. Setiap kelompok bebas memilih daerah observasinya masing-masing. Pada awalnya kami berjalan bersama-sama, lalu sepanjang jalan, setiap menemui daerah observasi yang dirasa cukup menarik, satu per satu kelompok mulai memisahkan diri. Kelompok saya, kelompok 8, memilih lokasi yang paling jauh, walaupun kami tak tahu jenis pertanian apa kira-kira yang akan kami observasi. Lalu, ketika hanya kelompok kami yang tersisa, kami tertarik ketika melihat seorang bapak yang sedang mencangkul tanah. Kami pun sepakat untuk memilih lokasi tersebut dan memilih bapak itu sebagai narasumber. Bapak tersebut bernama Pak Anam (62 tahun), dan ternyata, lebih tepatnya, yang sedang ia lakukan adalah menggali. Lokasi yang kami pilih ternyata adalah sebuah calon tambak ikan. Pak Anam sedang membuat tambak ke-14 nya. Karena baru saja memulai menggali, maka kami benar-benar tak menyadari bahwa lokasi itu akan dijadikan sebuah tambak, lokasi itu terlihat seperti sebidang tanah bekas kebun singkong saja. Menurut Pak Anam, tambak ini nantinya akan diisi oleh bibit ikan bawal, seperti beberapa tambaknya yang sebelumnya. Sementara tambak-tambaknya yang lain diisi oleh ikan mujair dan gurame, kebanyakan campuran antara mujair-gurame, gurame-bawal, ataupun mujair-bawal. Sebagian besar kolam-kolam ini berfungsi sebagai penggemukkan bibit saja, jadi, Pak Anam tidak memelihara bibit tersebut sampai menjadi pedaging, katanya, ia terlalu bosan menunggu sampai menjadi pedaging. Bibit-bibit tersebut biasanya dipesan tengkulak, ukuran bibitnya pun sesuai pesanan mereka. Sekitar 2-3 tambak lainnya Pak Anam biarkan menjadi pedaging. Biasanya hasil dari tambak tersebut untuk makan dan menjadi pemancingan kecil-kecilan. Dahulu ia pernah membuat pemancingan lele, tetapi merugi karena memelihara lele membutuhkan tenaga dan waktu yang lebih besar. Pakannya harus selalu diatur. Selain itu faktor cuaca di Bogor juga berpengaruh. Lele tidak begitu cocok dengan cuaca di Bogor sebagai kota Hujan. Terutama jika sudah diguyur hujan pada malam hari, pada pagi harinnya lele-lele itu sudah tergeletak kaku. Hal itu juga menjadi salah satu alasan Pak Amat memilih Ikan Bawal menjadi fokus usahanya, lebih kuat , lebih tahan, dan lebih gampang makannya, makannya bisa apa saja, daun ubi, daun pisang, bahkan daun talas sekalipun, asal di keringkan terlebih dahulu. Pak Anam memulai usaha ini sejak 2 tahun yang lalu. Sebelumnya ia bekerja sebagai kuli bangunan untuk menghidupi seorang istri dan kesembilan anaknya. Ketika usia semakin lanjut, Pak Anam memutuskan untuk membuat usaha yang bisa dilakukan dirumah. Anaknya yang paling besar kemudian memberikannya modal, sekitar 5 juta rupiah. Modal itu kemudian ia pakai untuk membeli sebidang tanah berukuran 200m2 untuk dijadikan lahan tambak, membeli bibit ikan, dll. Modal itu terus ia putar supaya ia bisa membeli tanah lagi dan membuat tambak-tambak yang baru. Diakuinya, pada musim panen yakni sekitar setiap 3 bulan, dari 300 ekor bibit yang sudah digemukkan dihargai Rp 3550,00 @ ekor, dari modal awal Rp 1500,00 @ ekor. Tengkulak-tengkulak itu kebanyakan berasal dari daerah Cikampak, Cibatu, dan Cibening. Tak banyak keuntungannya memang, mengingat tenaga, waktu dan modal yang dikeluarkan cukup besar. Apalagi ikan-ikan di dalam tambak ini sering menjadi incaran ‘serok’, hewan sejenis musang yang sering memangsa ikan. Untuk menjaga kolamnya ini supaya tetap aman, baik dari hewan maupun tangan-tangan jahil manusia, Pak Aman sering menggunakan jasa tetangga-tetangganya yang sedang menganggur. Imbalannya tak banyak, hanya beberapa ekor ikan jika sedang panen, walaupun begitu, tangga-tetanganya tetap ikhlas membantunya, mereka tahu bahawa Pak Anam hanyalah pengusaha bermodal kecil yang juga ingin ikut menyejahterakan orang-orang disekitarnya. Setiap kali panen, tetangga-tetangganya yang lain juga diizinkan ‘mencicipi’ beberapa ekor hasil usahanya. Pak Anam tak pernah takut rezekinya habis. “ Kalau mau menanam singkong, jangan pagari dengan pagar bambu, pagarilah dengan singkong itu juga. Kalau mau menambak ikan, jangan pagari kolamnya dengan pagar besi, tapi pagarilah dengan ikan itu juga,” katanya bijak. Maksud dari ungkapan ini ialah, jika kita ingin menanam sesuatu, kita harus berbagi kepada orang-orang disekitar kita dengan sesuatu tersebut. Dengan begitu, orang-orang bisa menikmati hasilnya dan dapat timbul ‘rasa memiliki’, sehingga mereka akan ikau menjaga dan tidak akan berbuat macam-macam terhadap apa yang kita tanam. Untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari ia mengandalkan warung kecil-kecilan di rumahnya. Ia terus berusaha untuk kehidupan yang lebih baik. “ Saya mah nggak sekolah, Neng. Yang penting anak-anak saya yang sekolah dan sekarang udah pada kerja semua,” ujarnya. Jadi, ketika Anda makan ikan Bawal, mungkin saja itu hasil kerjakeras penambak sederhana yang bijaksana.
Sunday, October 30, 2011
From your lovely grand child
Mungkin aku baru sempat posting lagi sekarang, bahkan untuk ngasih kabar ini,
Atut, tanggal 20 Oktober, Kamis kemarin, menghembuskan nafasnya yang terakhir,
dengan tenang, amat tenang bahkan, pukul 11.30 kurang lebih,
waktu itu yang sedang jaga di rumah sakit itu mbah dan Linda.
walaupun kondisi kritis Atut memang sudah sejak lama, tetapi tak ada yang menyangka bahwa 'lewatnya' justru hari ini, karena itu tadi, seminggu ini kondisi Atut begitu miris, kerusakan pankreasnya semakin melengkapi penyakit di usianya yang jelang 82, ia sering mengeluh tak jelas, dan itu tadi, justru 2 hari terakhir ia lewati tanpa keluh kesah sama sekali, dan Alhamdulillah, semuanya dipermudah.
Kaka Laras datang, walaupun jadi ada intrik di Gg.Randu, antara dia dan Pa'de Arif. Ayah, Ibu, Ridhwan ,dan Syifa,-yang ternyata baru balik dari jakarta ke cikarang- harus balik lagi ke Jakarta. Aku? Alhamdulillah, lebih dipermudah.
UTS dimulai tanggal 19 Oktober, dibuka dengan mata kuliah PM, dan esok harinya, 20 Oktober, ujian mata kuliah bahasa inggris yang, syukurnya, aku sudah lulus karena TOEFL. Jadi, sinag harinya aku bisa langsung bertolak ke Jakarta. Well, sebenarnya sebelum dapat kabar dari ayah jam 12.30, aku sudah berada di Terminal Baranang Siang. Niat awalnya, mau pulang ke Cikarang. Tapi saat bus nyaris saja berangkat, aku turun dan naik angkot berbalik ke arah stasiun.
Sesampainya di Jakarta, aku memang berusaha untuk kuat, dan yah, aku memang kuat, tapi di depan gang aku bertemu Ridhwan, my beloved brother. Ia menghampiriku dan tiba-tiba saja tangisnya pecah sambil memelukku, dan lalu... aku... ikut menangis. Selalu begitu,ketika aku sudah kuat, tangis tak bisa tertahan ketika ada orang lain yang menangis. Atau mungkin, konteks ini berbeda. Haru juga masih, dan pasti, menelimuti aura rumah. Dan Atut, sudah terbujur di ruang tamu.
Tamu semakin banyak yang datang. Ilyas, Haris, dan Imel juga datang malam harinya. Aziz yang masih 8 bulan, yang juga tidak mengerti apa-apa, mungkin adalah salah satu hiburan kami yang berduka.
Esok paginya, Atut dimandikan, dikafani, disholatkan di masjid kemuning-aku lupa nama masjidnya, dan di makamkan di Pemakaman Kemiri.
Dan itulah, Atut, yang hampir 64 tahun menjadi kakek teladan. Sosok yang tak banyak bicara, tapi banyak berbuat. Sosok penyendiri, but actually he has already exist.
Sampai ketika ibu dan ayah mengantarku ke IPB, Ibu berkata tantang hal ini," Yang paling puas disayang Atut itu,hm... mitha ya? eh, bukan ding, Sarah. Atau Ridhwan? Bukan..bukan... bener, si Sarah. Dari jaman Atut masih kuat gendong2, mandiin, nyetir, sampe abis... Wah, kamu paling puas, Sar.... Dan kamu juga paling puas ngerawat Atut, iya kan?". Aku mengangguk tanpa berkata. Menahan air mata, dan, yah, tak mau terlihat sedih.
Sekarang semuanya mulai baik-baik saja. Anak-anak mbah mulai membuat rencanma-rencara supaya mbah bisa aktif lagi, punya kesibukan lagi, sehingga tak larur terus-menerus dalam kesedihan.
Semalam, Sabtu 29 Oktober 2011, ada tausiyah di Gg. Radu, aku disuruh datang. Walaupun agak hectic karena tanggal 29-30 Oktober 2011 adalah acara Symposium Kepemudaan, dan aku divisi PDD, tapi Alhamdulilah bisa datang. Subuhnya, sebenarnya lebih tepat disebut pagi, akui diantar Ayah dan Ibu, yang mau ke RS.Mitra ngurusin gigi ibu. Dan langsung ke Audit Toyyib....
to be continued....
Sunday, July 3, 2011
Angket Rohis One '65
Ini hanyalah iseng-iseng dari kita belaka...
Terbaik : Edy Fajar- Dwi Kaput
Tersembunyi/terdiam : Fadhlir- Lisna
Terkreatif/terampil : Edy Fajar- Jamilah
Ter-expose/terkenal : Edy Fajar- Zahra
Ter-ibu : Tresna
Ter-bapak : Ilyas
Ter-sehat : Sogy (Ghiffary)- Tresna
Terlambat/terakhir : Julian - Imel
Terlupa : Syahid- Imel
Terjauh : Apid- Uwie (Dwi S.)
Terlangka/terpatut dilestarikan : Ariyadi- Sardy
Ter-organisir : Wahyu ketum- Dwi Kaput
Ter-disiplin : Fahdnul- Ariesta
Terbijak : Edy Fajar- Tresna
Tersibuk : Fahdnul - Zahra
Ter-rakus : Julian- Imel
Tergalau : Ilyas - Lisna
Ter-rapih : Ilyas- Ariesta
Terjorok : Julian- Sardy =_="
Ter-rajin : Fahdnul- Lisna
Terpelit : Sogy (Ghiffary)- Dwi kaput
Ter-asal-asalan : Rutwan- Sardy
Ter-hemat : Syahid- Cicy
Terboros : Arfan - Imel
Bonus Track
:Angket Karakter:
Koleris : Fahdnul (mutlak)-Dwi
Sanguinis : Haris- Zahra
Melankolis : Ilyas- Lisna (mutlak)
Pleghmatis : Edy~Ariyadi (imbang)- Sardy
Best Couple:
Ikhwan-ikhwan : Fahdnul - Ariyadi
Ikhan-akhwat : Fahdnul -Dwi kaput
Akhwat-akhwat : Sardy-Jamilah
Monday, June 20, 2011
Nuclear essay's outline
I) Nuclear is a risky energy resource
• The government has to give a great attention for safety
A. Nuclear Catastrophe
1) Chernobyl Catastrophe in Soviet Union
2) Nuclear disaster in Japan
B. Radioactive waste
1) Causing mutation
2) Being difficult to be decomposed
II) Indonesia doesn’t have enough human resources for nuclear project
A. The Number of Nuclear Scientist in Indonesia is still low
1) 3000 scientists or 0,14% of total population in Indonesia
2) 100 professors of nuclear field
B. Nuclear field in University only in several famous Universities in Java
C. Nuclear college in Indonesia only in Yogyakarta
D. Only a few people interested in Nuclear
III) Indonesia has many energy resources that can be used besides nuclear power
A. Indonesia is one of the richest countries of biodiversity in the world
B. The choices of alternative energy that have to be developed more:
1) Geothermal power plant
2) Solar power plant
3) Hydroelectric power plant
4) Steam power plant
5) Diesel power plant
6) Gas power plant
Nuclear essay's outline
I) Nuclear is a risky energy resource
• The government has to give a great attention for safety
A. Nuclear Catastrophe
1) Chernobyl Catastrophe in Soviet Union
2) Nuclear disaster in Japan
B. Radioactive waste
1) Causing mutation
2) Being difficult to be decomposed
II) Indonesia doesn’t have enough human resources for nuclear project
A. The Number of Nuclear Scientist in Indonesia is still low
1) 3000 scientists or 0,14% of total population in Indonesia
2) 100 professors of nuclear field
B. Nuclear field in University only in several famous Universities in Java
C. Nuclear college in Indonesia only in Yogyakarta
D. Only a few people interested in Nuclear
III) Indonesia has many energy resources that can be used besides nuclear power
A. Indonesia is one of the richest countries of biodiversity in the world
B. The choices of alternative energy that have to be developed more:
1) Geothermal power plant
2) Solar power plant
3) Hydroelectric power plant
4) Steam power plant
5) Diesel power plant
6) Gas power plant
Nuclear Power Plant
Nowadays, the usage of nuclear power is developing rapidly. Many people consider that the usage of nuclear power is more efficient because from a little source we can get a huge production of energy. More than thirty of all the productive countries, such as England, Russia, Japan, United States, France, etc., use nuclear power as their energy source of everything. Nuclear power can be used for explosive substance and it also can be used for energy source of electricity. The rapid development in Indonesia brings enormous demand of electricity, and this condition makes the government plan to build a nuclear power plant. In my opinion, building a nuclear power plant is not needed yet in Indonesia for three reasons: Nuclear is a risky energy resource, Indonesia doesn’t have enough human resources for nuclear project, and Indonesia has many energy resources that can be used besides nuclear power.
First, nuclear is a risky energy resource. Using nuclear power needs a structural planning. The planner has to give a great attention for every detail in using nuclear power, especially for the safety. A story about nuclear disaster that had destroyed Soviet Union and Japan can be a good lesson for our country which is planning for making a nuclear power plant. Despite the fact that they have a high accuracy of planning and doing something, Soviet Union and Japan got nuclear disaster because of their carelessness. Soviet Union in 1986 had a nuclear disaster which mostly known as Chernobyl Catastrophe. The disaster began when a sudden power output surge, and when an emergency shutdown was attempted, a more extreme spike in power output occurred, which led to a reactor vessel rupture and a series of explosions. These events exposed the graphite moderator of the reactor to air, causing it to ignite. As the result, the reactor exploded and poisoned over large parts of the western Soviet Union and Europe. From 1986 to 2000, about 350.400 people were evacuated and resettled from the most severely contaminated areas of Belarus, Russia, and Ukraine. The accident raised concerns about the safety of the Soviet nuclear power industry. Recently, similar case happened in Japan, but in lower intensity. Besides safety problem, another risky problem is nuclear waste which will give drawbacks for our environment cleanliness. During the operation of nuclear power plants, radioactive waste is produced. Radioactive is very dangerous and can cause gross mutation. This waste not only can radiate radioactivity but also difficult to be decomposed. It is very risky for our environment, especially for our next generation.
Second, Indonesia doesn’t have enough human resources for nuclear power project. According to Mr. P. Prayono, the chairman of association of oil and gas, the number of nuclear scientist in Indonesia is still about three thousand scientists, or only about 0,14 % of total population in Indonesia, and Indonesia has only about 100 professors of nuclear sector. Moreover, Nuclear field can be found only in several famous university in Indonesia, such as Gajah Mada University and Bandung Technology Institute, where only located in Java Island. Indonesia also has only one Nuclear College which develop under BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) or National Nuclear Energy Association where located in Yogyakarta, still in Java. Nuclear field has only a few people who is interested, as a consequence, Indonesia doesn’t enough human resources for nuclear power project.
Third, Indonesia has many energy resources that can be used besides nuclear power. The main reason why the government wants to make nuclear power plant is that nuclear can be a good alternative energy. However, nuclear power is not the only choice. There are many choices of alternative energy that we can choose to be the next energy resources. Moreover, Indonesia is one of the richest countries of biodiversity in the world. The utilization of alternative energy in Indonesia, such as geo-thermal, wind, and solar, is prospective. Indonesia have many volcanoes whose geothermal can be used to supply the national electric demand. Indonesia can also make Solar power plants whose substance is taken from our abundant resources, the sunlight. The development of hydroelectric power plants, steam power plants, diesel power plants, and gas power plants, which have built first, is a good pace and a great progress for Indonesia. Nevertheless, it will be better to develop them not only in Java and its environs but also in many others area outside Java.
Therefore, building a nuclear power plant is not needed yet in Indonesia because nuclear is a risky energy resource, Indonesia doesn’t have enough human resources for nuclear project, and Indonesia has many energy resources that can be used besides nuclear power. We have to maximize the use of our power plant and try to find other alternative energy except nuclear, and nuclear should be the last choice of using energy alternative.