Saturday, October 2, 2010

RIAK TAK TERDEFINISI

Universitas Indonesia, sebuah kampus yang banyak diidamkan oleh para pelajar. Tak terkecuali aku. Tapi siapa yang menyangka bahwa sekarang aku berdiri disini sebagai salah satu orang yang beruntung yang mendapat kesempatan itu. Menjadi mahasiswa UI. Sebuah kenyataan yang mungkin tidak aku dapatkan jika saja kejadian itu tidak terjadi.

---------------

“Yan, kamu udah siap buat SNMPTN besok?” tanya April kepadaku.

“Ya, siap nggak siap, kamu sendiri?”

“Insya Allah siap,” jawabnya dengan tenang.

Huh, sudah tentu dia tenang. Siapa dulu…April… Dari kelas sepuluh dulu, nilainya tak pernah kurang dari delapan untuk pelajaran jurusan, dan untuk pelajaran non jurusan nilainya tak pernah kurang dari tujuh. Remedial pun tak pernah lebih dari tiga pelajaran. Sedangkan aku? Remedial selalu lebih dari lima pelajaran, dan prestasi terbesar yang pernah kubuat hanya ketika mendapat nilai seratus pada bab Dimensi Tiga, pelajaran matematika, itu pun hampir seluruh siswa angkatanku mendapatkan nilai yang sama.

Malamnya, aku belajar dengan sungguh-sungguh, sangat sungguh-sungguh hingga terlalu letih, dan tertidur di meja belajar…

“BHUKK…!” tiba-tiba saja suara keras membangunkanku, dan suara itu datang dari… Kamar tante Puspa!

Aku bergegas menuju kamarnya. Ketika kubuka pintu kamarnya, kulihat ia sudah terkapar di lantai sambil mengerang kesakitan. Bayi dalam kandungannya sudah berkontraksi hebat, dan ketubannya mulai pecah! Oh, tidak! bagaimana ini? Aku panik! Saat ini tidak ada orang di rumah. Nenek dan kakek sedang berada di rumah orangtuaku, di Bekasi, sementara om Randa, suami tante Puspa sedang tugas ke Riau dan baru kembali dua hari lagi. Aku langsung memesan taksi dan mengumpulkan tas-tas yang sudah dipersiapkan oleh tante sejak jauh-jauh hari, sambil menenangkan tante Puspa. Sepuluh menit kemudian taksi yang kupesan datang. Sesampainya di rumah sakit, tante langsung dilarikan ke tempat persalinan. Aku hanya boleh menunggu di ruang tunggu saja. Sekarang jam tiga lebih 25 menit, dini hari. Aku mengabarkan nenek dan om-ku lewat SMS, takut mengganggu mereka jika menelepon malam-malam begini. Setelah itu, aku tertidur lagi.

Jam 05.10

Aku bergegas ke mushola untuk sholat subuh. Tadi aku sempat bertanya ke perawat yang sedang jaga, katanya, bayi tanteku lahir dengan selamat dan dalam kondisi yang sehat, walaupun harus di operasi Caesar karena kondisi tante yang lemah dan sempat pingsan di tengah prosesi persalinan. Beberapa saat kemudian, aku sudah diizinkan untuk masuk.

“ Tante, udah merasa lebih enak kan?”

“Udah, Yan, kamu udah liat bayi Tante?”

“Udah Tante, nangisnya keras banget, sehat banget tuh. Oh iya, om dan nenek udah aku kabarin kok. Nenek dan kakek insya Allah pulang sore ini, soalnya nunggu ayah pulang kerja dulu, kalo om Randa baru bisa pulang besok.”

“ Iya, nggak apa-apa, terima kasih ya, Yan, udah dibantuin, untung ada kamu.

“Eh iya, Yan, kamu nggak ikut SNMPTN? Hari ini kan tesnya?”

Aku terkejut. ‘Oh iya!’ Ya ampun, aku sama sekali lupa akan hal itu. Aduh, bagaimana ini?

“ Ya sudah, kamu cepat- cepat sana, nanti keburu terlambat.” Kata tante.

“ Oh, oke Tante, Tante nggak apa-apa nih aku tinggal?”

“ Nggak apa-apa kok, ka nada suster, ada dokter, cleaning service juga ada. He…he…he…”

“Yee… Ya udah deh, aku pamit dulu ya. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam.”

Sesaat kemudian aku baru sadar kalau aku hanya mengantongi uang sebesar dua puluh ribu rupiah, sisa kembalian taksi semalam. Jadi, mau nggak mau aku harus naik bus. Aku juga harus kembali ke rumah terlebih dahulu, untuk mengambil kartu peserta, alat tulis, dan pernak-perniknya. Setelah itu, aku bergegas ke sekolahku, kebetulan aku mendapat lokasi tes di sekolahku sendiri.

Ya, aku sangat buru-buru, sampai-sampai tak sempat mandi. Aku menunggu bus yang datang lamaaa sekali. “Sial,” umpatku dalam hati. Dua puluh menit kemudian, bus baru datang. “Huh, tahu begini aku kan bisa mandi dulu,” sesalku lagi.

Jam 08.42

Suasana lalu lintas sangat padat. Terlihat beberapa truk container yang ikut menyemarakkan kemacetan ini. Suara klakson berbagai irama pun terdengar bersahut-sahutan. Begitu juga keadaan di dalam bus. Saking penuhnya, aku sampai tak perlu lagi berpegangan ke gantungan bus, karena aku sudah terapit dengan aman oleh puluhan penumpang didalam bus ini. Walaupun sudah penuh, sang kernet tetap saja berteriak, “Masih kosong, masih kosong!” lalu sesekali kepalanya dijulurkan kedalam, “Digeser, Bu, digeser, Mas! Ke tengah lagi! Kasian yang dipinggir!” apa dia sudah gila?

Kondisi ini membuatku sesak. Udara terasa seperti sebuah bongkahan beton yang besar bagiku. Ingin rasanya kupecahkan bongkahan itu menjadi kecil-kecil dan menghirupnya. “Ya Allah, kuatkan hamba, berikanlah yang terbaik untuk hamba,” doaku berulang-ulang dalam hati.

“BRAKK…!”

Bus kami seperti menabrak sesuatu. Tiba-tiba terdengar suara ribut dari depan. Suasana jadi rusuh. Penumpang yang tadinya terlihat lesu tiba-tiba saja menjadi penuh semangat. Aku yang kebetulan ada di dekat pintu mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Para pedagang kaki lima mendatangi bus kami. Para pejalan kaki pun begitu. Alasanya apa lagi kalo bukan ingin melihat tontonan gratis ini yang setelah bersusah payah baru kuketahui kalau ternyata pangkal permasalahannya adalah Sopir bus kami yang menabrak motor yang melaju dari arah berlawanan, padahal jalanan ini kan hanya satu jalur. Menurutku dua-duanya yang salah, seharusnya bus tidak menyalip, dan pengendara motor tidak seharusnya melawan arus, jadi, percuma saja kalo mau debat dan ribut-ribut di hari yang terik ini. Bikin tambah emosi. Lalu samar-samar kudengar kalau si pengendara motor meminta ganti rugi. Waduh, bagaimana ini? Terbayang olehku kalau akhirnya kami, para penumpang, harus patungan untuk menggantikan kerusakan motor itu. Tapi rasanya hal itu takkan terjadi karena beberapa saat kemudian dua polisi datang, yang satu menengahi keributan, dan yang satu lagi menyuruh kami semua untuk turun, sopir bus kami dan si pengendara motor akan di bawa ke kantor polisi rupanya. Kasihan. Eits, tunggu…tapi rasanya kali ini aku tak kalah malang dari mereka, karena sekarang sudah jam 09.10 dan jarak ke sekolahku masih sepertiga perjalanan lagi. Ya Rabb, aku bingung. Aku mencoba untuk tetap tenang supaya bisa berpikir, kendaraan apa saja yang bisa kunaiki, yang arahnya menuju sekolahku, dan dengan secepat mungkin.

“Matraman- Kota! Matraman-Kota! Mangga Dua! Mangga Dua! Ayo Mbak, lewat Mangga Dua , Mbak!” teriak seorang kernet bus kepadaku. Seketika itu juga suara itu terdengar sangat syahdu. Ia terlihat seperti malaikat yang mengantar jawaban atas doa-doaku selama ini.

“Mangga Dua, Mbak?!” teriaknya lagi.

“Eh…Iya, Bang! Lewat Banteng kan?!” tanyaku setelah sadar.

“Lewat, Mbak!”

Aku langsung naik bus itu, dan langsung mendapat tempat duduk.

Lalu lintas masih padat, tapi sudah tak macet seperti tadi. Lima belas menit kemudian, aku sudah sampai di sekolah. Tapi tetap saja, aku terlambat.Aku bahkan sudah tidak berani lagi melihat jam berapa ini. Kulihat beberapa pesrta tes keluar dari gerbang sekolah. Aku langung berlari ke ruang guru, mencoba peruntungan, ‘kali aja masih bisa,’. Tapi ternyata hanya tersisa seorang guru dan seorang staf TU.

“Permisi, Bu, saya mau tanya, SNMPTN-nya sudah selesai ya , Bu?”

“Iya, Nak, seharusnya sih waktunya baru selesai sekarang,tapi anak-anaknya sudah selesai dari tadi. Lah, emang kamu nggak ikut?”

“Eh, enggak ikut, Bu, saya telat,”

“Ya ampun?! Kok bisa? Sayang banget, Dian,”

“Iya, Bu, saya tahu. Terus kalau ikut susulan nggak bisa ya, Bu? Besok gitu misalnya, sekalian digabung sama tes besok ”

“ Ya enggak bisa, Yan. Maaf ya,”

“Iya, Bu, Enggak apa-apa. Terima kasih ya, Bu. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam.”

Aku tertunduk lesu. Yah, Seharusnya aku sudah memperhitungkan hal ini. Seharusnya aku bisa mengira hal ini. Seharusnya aku…. Ah, Sudahlah. Tak seharusnya aku terlalu berharap. Mungkin inilah yang disebut takdir. Sebuah kenyataan yang harus diterima setelah berusaha dengan keras, dan kebetulan, kenyataan kali ini yang harus kutelan adalah sebuah kenyataan pahit. Ambil sisi baiknya. Mungkin kalau aku ikut tes, didalam ruangan aku akan stress, kemudian perutku mulas, dan aku malah terlihat seperti orang bodoh. Atau mungkin saja, kalau aku masuk dalam keadaan terlambat, aku malah bikin malu sekolahku. Ya sudahlah. Aku mengambil kartu SNMPTN-ku, melihat nomor-nomornya, merasakan halus kertasnya yang belum sempat aku laminating, dan mengeja namaku sekali lagi. Diana Shafa Arliyanti. Hilang sudah harapanku untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri, setidaknya untuk tahun ini. Sebutir air mata hampir turun dari mataku kalau karena bukan suara seseorang yang memanggilku.

“Dian! Diana!”. Aku mencari-cari asal suara yang memanggilku.

“Dian!” ternyata pak Ryan, Wakil Kepala Sekolah bagian Kesiswaan, yang memanggilku. Aku segera menghampirinya.

“ Iya, Pak, ada apa?”

“Ayo, Yan, ikut saya ke ruang Audio Visual, ada yang ingin bertemu kamu disana.” Aku patuh saja, tak banyak bertanya. Udah nggak mood. Paling mau ngasih undangan dari sekolah lain. Eh, tapi kan aku sudah nggak jadi pengurus lagi?

“Nah, ini dia yang mau ketemu sama Kamu,” katanya sambil memperkenalkan seorang lelaki yang kukira umurnya tak jauh dengan umur ibuku.

“Perkenalkan, nama saya Affan, Alumnus angkatan 90,” katanya. Perkiraanku tepat, seumuran ibuku.

“Dian, Diana Shafa Arliyanti,”

“Iya, saya sudah tahu kok?”

“Oh iya,“ tentu saja dia tahu, kalo nggak tau, dia nggak bakal manggil aku kesini.

“Iya, kamu tahu kenapa kamu dipanggil kesini?” tanyanya. Aku menggeleng.

“Kamu dapat beasiswa khusus, dari Ikatan Alumni,” sambungnya lagi.

“Loh, yang beasiswa kemarin itu? Bukannya sudah dibagikan ya?” tanyaku bingung.

“Iya, tapi kamu kan khusus, pokoknya begini, essay kamu diterima, waktu interview kamu memang nggak lolos. Tapi kamu tau kemana larinya essay kamu setelah itu?” tanyanya. Aku menggeleng lagi.

“Essay kamu sekarang ada di teman saya, Alumni sekolah ini juga, dia direktur dari sebuah penerbitan nasional yang sudah lumayan benefit. Dia juga seorang jurnalis. Nah, menurut dia, yang juga salah satu tim juri kemarin, sangat disayangkan kalau kamu di eliminasi begitu saja, karena kamu punya bakat. Menjadi seorang penulis. Penulis di bidang apa saja. Nah, itulah sebabnya kenapa kamu dapat beasiswa khusus ini. Kami ingin, kamu bisa mengembangkan bakat menulis kamu. Sekali lagi dalam bidang apa saja.”

“Aa…Hh…..Hm…” aku bingung mau bicara apa.

“Bedanya dengan teman-teman kamu yang lain, selain karena kamu baru dapat beasiswanya sekarang, adalah karena beasiswa yang kami berikan kepada kamu bukan dalam bentuk uang, tapi dalam bentuk kerjasama dengan salah satu universitas. Universitas Indonesia. Jurusannya, terserah kamu.”

“Hah?!” aku merasa seperti disambar petir! “UI?” tanyaku meyakinkannya lagi.

“Iya, UI, Universitas Indonesia. Ya, tapi terserah kamu sih, mau diterima atau nggak,”

“Ya ampun, Ka, bagaimana bisa aku menolak kesempatan ini?”

“Oke, kalau kamu sudah setuju, ini adalah aplikasi yang harus kamu lengkapi. Kali ini santai aja, kamu nggak perlu melewati proses seleksi lagi. Langsung.” Katanya sambil menyerahkan sebuah amplop besar berwarna coklat kepadaku.

“Terima kasih banyak, Ka. Saya…Hm… Ya, terima kasih banyak. Saya akan mempergunakan beasiswa ini dengan sebaik-baiknya.”

“Santai saja, jangan terlalu dibawa serius dan stress, kami cuma ingin kelak kamu menjadi penulis sesuai dengan karakter dan bakat kamu. Kamu fokus saja kepada cita-cita kamu. Jadi penulis itu bonusnya, Yan.”

“Terima kasih banyak, Ka, sangat banyak.” Kataku lagi.

“Iya, sama-sama. Oia, saya pamit dulu ya, Dian, Pak Ryan,” katanya sambil mencium tangan Pak Ryan.

“Iya, Fan, hati-hati ya!” kata pak Ryan.

“Good Luck, Yan,” katanya sambil menjabat tanganku

“ Sip, Ka, pasti, “ jawabku. Ia segera pergi.

“Yan, dari tadi pagi tuh Saya telepon kamu nggak diangkat-angkat, kamu tahu nggak, untung kamu siang-siang kayak gini masih berkaliaran di sekolah, kalo nggak, beasiswa itu terancam nggak kamu dapatkan.”

“Aduh, maaf pak, baterei saya habis. Loh, kok bisa terancam nggak dapat, Pak?”

“Iya, soalnya penanggung jawab beasiswa ini, Ka Affan yang tadi, mau tinggal di Jepang selama 10 bulan, sementara beasiswa kayak begini nggak bisa sembarangan dititipkan ke orang.”

“Kalau dititip ke Sekolah?”

“Yah, ribet, Yan, Sekarang kan lagi musim ujian dan liburan, sekolah tuh sibuk. Kalau mau, kamu mesti menunggu dia sampai balik lagi ke Indonesia.”

“Ya ampun, tahun depan dong?!”

“Kurang lebih seperti itu.”

“ Ya sudah, Pak, saya pamit pulang dulu ya , Pak. Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam. Hati-hati, Yan!”

Ya, aku ingin segera pulang, dan memberitahukan pengumuman penting ini kepada keluargaku, apalagi sore nanti, nenek, kakek, ayah, ibu, dan adik-adikku datang. Pasti seru!

Siapa yang menyangka cerita ini akan seperti ini akhirnnya. Seringkali, kehidupan itu seperti riak air di selokan kecil yang kita tak tahu kemana arusnya. Maka, aku adalah seekor ikan kecil yang mencoba menebak dan mengikuti arah arus itu sampai pada akhirnya, ikan kecil itu kini sedang menjelajahi luas samudera, yang arusnya tak akan pernah habis.

No comments:

Post a Comment