Sunday, October 30, 2011

From your lovely grand child

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un...
Mungkin aku baru sempat posting lagi sekarang, bahkan untuk ngasih kabar ini,
Atut, tanggal 20 Oktober, Kamis kemarin, menghembuskan nafasnya yang terakhir,
dengan tenang, amat tenang bahkan, pukul 11.30 kurang lebih,
waktu itu yang sedang jaga di rumah sakit itu mbah dan Linda.
walaupun kondisi kritis Atut memang sudah sejak lama, tetapi tak ada yang menyangka bahwa 'lewatnya' justru hari ini, karena itu tadi, seminggu ini kondisi Atut begitu miris, kerusakan pankreasnya semakin melengkapi penyakit di usianya yang jelang 82, ia sering mengeluh tak jelas, dan itu tadi, justru 2 hari terakhir ia lewati tanpa keluh kesah sama sekali, dan Alhamdulillah, semuanya dipermudah.
Kaka Laras datang, walaupun jadi ada intrik di Gg.Randu, antara dia dan Pa'de Arif. Ayah, Ibu, Ridhwan ,dan Syifa,-yang ternyata baru balik dari jakarta ke cikarang- harus balik lagi ke Jakarta. Aku? Alhamdulillah, lebih dipermudah.
UTS dimulai tanggal 19 Oktober, dibuka dengan mata kuliah PM, dan esok harinya, 20 Oktober, ujian mata kuliah bahasa inggris yang, syukurnya, aku sudah lulus karena TOEFL. Jadi, sinag harinya aku bisa langsung bertolak ke Jakarta. Well, sebenarnya sebelum dapat kabar dari ayah jam 12.30, aku sudah berada di Terminal Baranang Siang. Niat awalnya, mau pulang ke Cikarang. Tapi saat bus nyaris saja berangkat, aku turun dan naik angkot berbalik ke arah stasiun.
Sesampainya di Jakarta, aku memang berusaha untuk kuat, dan yah, aku memang kuat, tapi di depan gang aku bertemu Ridhwan, my beloved brother. Ia menghampiriku dan tiba-tiba saja tangisnya pecah sambil memelukku, dan lalu... aku... ikut menangis. Selalu begitu,ketika aku sudah kuat, tangis tak bisa tertahan ketika ada orang lain yang menangis. Atau mungkin, konteks ini berbeda. Haru juga masih, dan pasti, menelimuti aura rumah. Dan Atut, sudah terbujur di ruang tamu.
Tamu semakin banyak yang datang. Ilyas, Haris, dan Imel juga datang malam harinya. Aziz yang masih 8 bulan, yang juga tidak mengerti apa-apa, mungkin adalah salah satu hiburan kami yang berduka.
Esok paginya, Atut dimandikan, dikafani, disholatkan di masjid kemuning-aku lupa nama masjidnya, dan di makamkan di Pemakaman Kemiri.
Dan itulah, Atut, yang hampir 64 tahun menjadi kakek teladan. Sosok yang tak banyak bicara, tapi banyak berbuat. Sosok penyendiri, but actually he has already exist.
Sampai ketika ibu dan ayah mengantarku ke IPB, Ibu berkata tantang hal ini," Yang paling puas disayang Atut itu,hm... mitha ya? eh, bukan ding, Sarah. Atau Ridhwan? Bukan..bukan... bener, si Sarah. Dari jaman Atut masih kuat gendong2, mandiin, nyetir, sampe abis... Wah, kamu paling puas, Sar.... Dan kamu juga paling puas ngerawat Atut, iya kan?". Aku mengangguk tanpa berkata. Menahan air mata, dan, yah, tak mau terlihat sedih.
Sekarang semuanya mulai baik-baik saja. Anak-anak mbah mulai membuat rencanma-rencara supaya mbah bisa aktif lagi, punya kesibukan lagi, sehingga tak larur terus-menerus dalam kesedihan.
Semalam, Sabtu 29 Oktober 2011, ada tausiyah di Gg. Radu, aku disuruh datang. Walaupun agak hectic karena tanggal 29-30 Oktober 2011 adalah acara Symposium Kepemudaan, dan aku divisi PDD, tapi Alhamdulilah bisa datang. Subuhnya, sebenarnya lebih tepat disebut pagi, akui diantar Ayah dan Ibu, yang mau ke RS.Mitra ngurusin gigi ibu. Dan langsung ke Audit Toyyib....

to be continued....

No comments:

Post a Comment