Wednesday, December 5, 2012
Bea Cukai
Sudah lama, sejak aku kenal Dwi di SMA, Dwi banyak bercerita tentang kakaknya, Kak Far’ah, dan Kak Jimmi, calon suaminya. Sampai Oktober lalu Dwi menghubungi ku, ia menanyakan kesediaanku untuk menjadi penerima tamu di acara pernikahan kakaknya pada tanggal 2 Desember 2012. Karena merasa pada tanggal itu jadwalku kosong, jadi aku menyetujuinya. Saat itu memang sempat terbesit pikiran kalau mungkin saja pada tanggal itu akan ada acara besar yang bakal sayang untuk dilewatkan. Tapi, ah, mau bagaimana lagi, sudah kepalang janji. Orang tua dan Keluarga ku pun menyambut baik berita ini karena kalau aku jadi penerima tamu pernikahan kakaknya Dwi itu berarti aku pasti bisa pulang di sekitar tanggal tersebut.
Lama… lama… dan lama… sampai ketika sekitar 1 minggu sebelum masuk bulan Desember ramai tersiar kabar bahwa expo & malam puncak Genus (Gebyar Nusantara) akan diadakan pada tanggal 1 Desember 2012. GLEK! Benar saja apa yang kubayangkan sebelumnya, akan ada acara besar. Genus, suatu acara perhelatan antar Ormas Daerah untuk unjuk gigi menampilkan kekayaan budaya mereka yang dapat berupa seni , kuliner, teknologi, tempat wisata, dan lain-lain. Memang, acara Genus diadakan 1 hari sebelum acara berlangsung, tapi tetap saja tidak mungkin karena acara Genus biasanya baru selesai jam 11 malam sementara esok harinya aku harus stand by di Gedung Bea Cukai Rawamangun jam 5 pagi! Namun disinilah keprofesionalitasku diuji. Mau tidak mau, ini janji bung. Ini belum termasuk permohonan Ibu supaya tanggal 30 Novembernya aku ke Cikarang terlebih dahulu untuk menghadiri Bazaar dan Tabligh akbar yang diadakan di Yayasan An-Nur Rahman, SMP-nya Ridhwan. Akhirnya, tanggal 1 Desember jam 6 pagi aku bertolak ke Cikarang. Sesampainya di Cikarang langsung diantar ayah ke An-Nur. Acara disana cukup meriah, Aa Hadi bersama istrinya, Che che Kirani datang pula. Ibu selaku Komite yang menjadi panitia mengenakan Kafta berwarna merah fanta dengan jilbab hijau tosca. Cukup hebring untuk ukuran Ibu yang tak pernah memakai kafta, apalagi dalam kondisi acara outdoor pada siang hari. Malamnya, barulah kami sekeluarga ke Rumah Mbah di Jakarta, kebetulan, Pakde Budi baru datang dari Jambi.
Esok subuhnya, aku datang telat, jam 5.15 am. Arista (temanku yang juga menjadi penerima tamu) sudah ada disana sejak jam 5 tepat, sementara yang lain, belum ada yang datang, pun kelurga Dwi. Hanya ada beberapa abang-abang yang sedang mendekorasi gedung (tunggu, jam segini mereka baru mendekorasi gedung? -_-a ). Salah satu dari mereka bahkan tepar di red-carpet, posisinya persis seperti korban pembunuhan. Jam setengah tujuh-an barulah kakaknya Dwi dan pihak make-up datang. It was time to make over! We were like wearing a mask, you know lah… Foundation, bedak padat, lip gloss, mascara, blush on, eye shading, etc. Huft…
(to be continued)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment